Benteng Society Lakukan Advokasi Demi Kesembuhan Pak Sukmani

20260724_031506

Malam terasa begitu panjang bagi Pak Sukmani. Sudah delapan bulan kanker menggerogoti dirinya yang makin ringkih. Pria berusia 47 tahun ini tak lagi bisa tidur nyenyak. Rasa sakit membakar tubuhnya.

Rasa nyeri kanker muncul saat sel ganas menekan saraf bagian wajah. Sayangnya, perjuangan berobat lewat jalan BPJS berulang kali membentur tembok tebal. Layanan medis hanya tertahan di level Puskesmas.

Berobat di beberapa rumah sakit hanya sebatas pemeriksaan. Tidak ada tindakan medis pasti. Operasi yang sangat dibutuhkan tidak kunjung dijadwalkan. Bayangkan penderitaan itu. Hari-harinya perlahan dipenuhi keputusasaan.

Harapan untuk hidup normal perlahan memudar dari matanya. Kita sering melihat sistem kesehatan kita yang rumit ini membingungkan rakyat kecil. Tubuh merintih. Namun, surat birokrasi terus menunda penyelamatan nyawa.

Sebuah titik terang akhirnya muncul dari selebaran open donation. Informasi itu sampai ke telinga kawan-kawan Benteng Society. Komunitas ini memutuskan untuk tidak tinggal diam melihat ketidakadilan medis ini.

Gerakan advokasi langsung bergerak cepat di lapangan. Mengunjungi rumahnya. Di Kampung Karoya, Desa Carenang, Kecamatan Cisoka. Kami mendampingi keluarga Pak Sukmani menembus sekat birokrasi yang kaku. Karena kesehatan merupakan hak dasar. Tak boleh ada warga yang terlantar.

Benteng Society menghubungi pemangku kebijakan di tingkat Pemda Kabupaten Tangerang. Menjelaskan kondisinya. Juga kronologinya.

Usaha keras itu membuahkan hasil manis. Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang memberikan atensi khusus. Pak Sukmani langsung dirujuk ke IGD RSUD Kabupaten Tangerang untuk tindakan operasi segera. Dijemput langsung dari rumahnya oleh pihak Puskesmas Cisoka. Rupanya takdir mulai berpihak.

Respons cepat pemda patut kita apresiasi bersama. Kerja nyata seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat saat kondisi darurat menyerang. Nyawa manusia memang harus selalu berada di atas segala aturan rumit.

Para pemangku kebijakan di tingkat kecamatan maupun desa tidak boleh menutup informasi. Terutama berkaitan dengan hak dasar masyarakat yang butuh penanganan cepat.

Advokasi sosial terbukti menjadi jembatan krusial. Dalam ilmu sosiologi kesehatan, dorongan komunitas sering kali menjadi penentu keselamatan seseorang. Kepedulian warga sanggup menggerakkan sistem yang tadinya membeku.

Pak Sukmani kini berada di tangan pakar medis. Doa-doa yang dipanjatkan keluarganya setiap saat akhirnya didengar. Ketabahan beliau menghadapi rasa sakit dahsyat menjadi bukti betapa kuatnya jiwa manusia.

Proses pemulihan memang butuh waktu. Tidak sebentar. Kita semua berharap operasi berjalan lancar tanpa hambatan. Semoga senyum ramah pria 47 tahun ini bisa kembali terkembang di tengah keluarganya.

Kisah ini mengajarkan satu hal hangat pada kita. Pertolongan sering kali datang dari arah tak terduga. Yakinlah, Tuhan tidak pernah tidur mendengar rintihan hamba-Nya yang sedang teraniaya.

Terima kasih untuk kawan-kawan relawan yang terus bergerak. Tangan-tangan kalian merupakan perpanjangan kasih di bumi. Tanpa kepedulian kalian, cerita ini mungkin akan berakhir dengan sangat berbeda.

Semoga Pak Sukmani cepat pulih dan sehat kembali. Saat kita saling menjaga, tak ada penderitaan yang terlalu berat untuk dipikul. Cinta dan doa akan selalu menemukan jalannya pulang.