Kisah Suherman: Mencangkul Tanah Korporasi, Menjemput Maut di Gubuk Sendiri

IMG-20260601-WA0014

TANGERANG — Hidup Suherman (49) merupakan untaian kemalangan yang tak kunjung usai. Di usianya yang hampir setengah abad, pria kelahiran 4 Mei 1977 ini harus menelan pil pahit kehidupan. Dia sebatang kara. Diasingkan oleh keadaan. Istri dan anaknya telah pergi pasca-perceraian.

Kini, warga Kp. Dupa Kecil RT 007/RW 001, Desa Pasir Muncang, Kecamatan Jayanti ini hanya berteman sepi. Dan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya setiap hari.

Makan dari Belas Kasihan

Suherman ialah seorang petani penggarap. Tragisnya, tanah yang dia cangkul saban hari bukan miliknya. Itu lahan milik PT (perusahaan).

Di atas tanah korporasi itu pula, dia mendirikan gubuk. Sebuah tempat bernaung yang jauh dari kata layak. Rumah itu reot. Hampir roboh. Bayang-bayang penggusuran selalu menghantui setiap malamnya.

Penghasilannya dari bertani tak menentu. Seringkali, perutnya kosong. Untuk bertahan hidup, Suherman terpaksa menggantungkan nasib pada belas kasihan tetangga.

“Dia sakit-sakitan. Hidup sendiri. Makan sehari-hari hanya mengharapkan pemberian orang lain,” ujar Firmansyah, Kamerad Benteng Society yang mendatangi lokasi pada Senin, 1 Juni 2026.

Satu-satunya Harapan: Bedah Rumah Peninggalan

Suherman tidak muluk-muluk. Dia punya satu asa yang tersisa. Orang tuanya meninggalkan sepetak rumah warisan. Rumah itu kini ditempati oleh kakaknya perempuannya. Tanah itu legal. Bisa disentuh program bedah rumah oleh pemerintah daerah.

Suherman hanya meminta keadilan kecil: Dia memohon pemerintah sudi membedah rumah peninggalan tersebut. Berharap rumah itu dibagi menjadi dua petak. Satu ruangan untuk kakaknya, satu ruangan kecil untuk dirinya.

Suherman hanya ingin pulang. Dia ingin punya dinding yang sah untuk bersandar di hari tua. Sebelum penyakit mengalahkan tubuh ringkihnya.

Tuntutan Benteng Society

Benteng Society menegaskan bahwa kemiskinan ekstrem yang dialami Suherman merupakan tamparan keras bagi birokrasi lokal.

“Mendesak Pemerintah Kabupaten Tangerang dan dinas terkait untuk segera turun tangan. Merealisasikan program bedah rumah bagi rumah peninggalan orang tua Suherman,” tegas Firmansyah.

Dia juga menegaskan, Pemda harus memberikan jaminan kesehatan dan sosial serta-merta kepada Suherman yang hidup sakit-sakitan.

Menurutnya, negara tidak boleh kalah oleh korporasi. Rakyat kecil tidak boleh mati kelaparan di atas tanah yang subur.

“Pak Suherman tidak boleh mati pelan-pelan dalam kesendirian. Keadilan harus dijemput sekarang juga,” tegasnya.