Candramawa

Dunia kampus kini terasa seperti ruang hampa yang sunyi. Mahasiswa sibuk dengan gawai, terjebak dalam arus algoritma yang membius. Mereka kehilangan taji untuk sekadar bertanya pada realitas sosial yang semakin carut-marut dan penuh ketidakadilan.

Logika kritis seolah terkubur di bawah tumpukan tugas administratif yang membosankan. Fenomena ini bukan sekadar kemalasan, melainkan sebuah bentuk depersonalisasi kolektif yang mengkhawatirkan. Kita melihat wajah-wajah muda yang tampak kosong tanpa api pemberontakan intelektual sedikit pun.

Kebijakan pemerintah yang kontroversial lewat begitu saja tanpa diskursus mendalam. Tidak ada lagi debat panas di sudut kantin atau orasi yang membakar semangat. Semua berubah menjadi penerimaan yang pasif dan sikap acuh yang sangat menyakitkan.

Mahasiswa lebih memilih mengejar validitas semu di jagat media sosial mereka. Eksistensi digital dianggap jauh lebih penting daripada substansi perubahan sosial yang nyata. Ini adalah tragedi intelektual di tengah kemajuan teknologi yang seharusnya membebaskan pikiran kita semua.

Secara sosiologis, ada pergeseran paradigma dari idealisme menuju pragmatisme yang sangat sempit. Pendidikan tinggi hanya dipandang sebagai jembatan menuju dunia kerja yang sangat kompetitif. Gelar akademis kini menjadi komoditas, sementara nalar kritis dianggap sebagai beban yang melelahkan.

Apatisme ini menjalar seperti virus yang melumpuhkan saraf kepedulian publik kita. Mereka tidak lagi merasa menjadi bagian dari solusi atas berbagai masalah bangsa. Rakyat kecil berjuang sendirian tanpa dukungan dari kaum intelektual muda yang seharusnya menjadi garda terdepan.

Dulu, kampus adalah laboratorium perlawanan yang sangat ditakuti oleh penguasa zalim. Sekarang, atmosfernya berubah menjadi pusat perbelanjaan gaya hidup yang dangkal dan artifisial. Diskusi berat mengenai ekonomi politik digantikan oleh tren fesyen yang cepat sekali berganti.

Ketidakpedulian ini menciptakan ruang gelap bagi kekuasaan untuk bertindak sewenang-wenang tanpa kendali. Check and balance yang seharusnya datang dari kaum terpelajar kini menghilang ditelan bumi. Pemerintah bisa dengan mudah mengesahkan undang-undang tanpa adanya perlawanan intelektual yang berarti.

Kita sedang menyaksikan matinya imajinasi sosiologis di kalangan generasi penerus bangsa ini. Mereka gagal menghubungkan masalah pribadi dengan struktur sosial yang jauh lebih luas lagi. Akibatnya, mereka menjadi individu yang terisolasi dalam gelembung kenyamanan yang sangat rapuh sekali.

Mungkin sistem pendidikan kita memang dirancang untuk mencetak robot-robot yang patuh saja. Kreativitas dibatasi oleh standar nilai yang kaku dan tidak menyisakan ruang diskusi. Mahasiswa takut berbeda pendapat karena khawatir akan berdampak pada indeks prestasi kumulatif mereka nanti.

Kritik dianggap sebagai kebisingan yang mengganggu stabilitas hidup yang sudah sangat mapan. Padahal, tanpa kritik, demokrasi akan layu dan berubah menjadi otoritarianisme yang sangat halus. Kita butuh keberanian untuk kembali mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak.

Sentuhan personal dalam tulisan ini muncul dari rasa kecewa yang mendalam sekali. Saya melihat adik-adik tingkat yang lebih asyik membicarakan gim daring daripada nasib petani. Ada kerinduan pada masa ketika suara mahasiswa mampu menggetarkan pilar-pilar istana yang angkuh.

Secara ilmiah, fenomena ini bisa dijelaskan melalui teori pengasingan diri yang sangat ekstrem. Mahasiswa merasa tidak berdaya melawan sistem besar yang dianggap sudah sangat mapan sekali. Mereka memilih mundur ke dalam ruang privat dan mengabaikan segala urusan publik yang penting.

Candramawa menggambarkan kondisi yang hitam pekat namun terselip cahaya putih yang redup. Masih ada segelintir anak muda yang mencoba bertahan di tengah arus apatisme ini. Mereka adalah api kecil yang berusaha menjaga nalar agar tetap menyala meski angin bertiup kencang.

Namun, jumlah mereka terlalu sedikit untuk bisa membuat perubahan yang signifikan bagi negara. Mayoritas masih terlelap dalam mimpi indah tentang kemapanan yang sebenarnya sangat semu sekali. Kita perlu membangunkan mereka dengan cara yang lebih kreatif dan menyentuh sisi kemanusiaan.

Perubahan harus dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Mahasiswa harus kembali membaca buku-buku kiri, kanan, dan tengah untuk memperkaya perspektif pikiran. Jangan biarkan otak kita hanya diisi oleh konten singkat yang tidak memiliki kedalaman.

Pemerintah juga harus dikritik dengan data yang valid dan argumentasi yang sangat kuat. Jangan biarkan mereka merasa nyaman karena tidak ada yang berani bersuara di publik. Kritik adalah bentuk cinta paling tinggi bagi sebuah negara yang ingin terus maju.

Apatisme adalah musuh nyata bagi masa depan demokrasi yang sehat dan berkelanjutan. Jika mahasiswa terus diam, maka kegelapan akan semakin merajalela di tanah air ini. Mari kita buang rasa malas dan mulailah peduli pada setiap kebijakan yang ada.

Langkah kecil seperti mengikuti diskusi daring atau menulis opini bisa menjadi sebuah awal. Jangan meremehkan kekuatan kata-kata dalam mengubah pola pikir orang-orang di sekitar kita. Setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kewarasan kolektif bangsa yang besar ini.

Artikel ini bukan sekadar keluhan, melainkan panggilan untuk kembali pulang ke jalan kebenaran. Candramawa harus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menemukan kembali identitas aslinya sebagai agen perubahan. Jangan biarkan sejarah mencatat kita sebagai generasi yang mati karena sikap sangat acuh.

Akhirnya, mari kita renungkan kembali peran kita di tengah masyarakat yang sedang bergejolak. Apakah kita ingin menjadi penonton yang pasif atau aktor yang menentukan arah sejarah? Pilihan ada di tangan kita masing-masing, sekarang atau tidak pernah sama sekali.