Indonesia Me-merdekakan diri, dari sebuah penindasan Kolonialisme dan Bung Hatta pernah berkata “Aku ingin mendirikan sebuah negara yang didalamnya bahagia”. Tapi pupus. Kesedihan datang dari anak 10 Tahun karena ingin meraih cita-cita. Sedihnya begitu menggoreskan hati bagi rakyat. Ketika seorang anak siswa kelas IV ( Empat ) SD, di Nusa Tenggara Timur, memilih bunuh diri hanya karena memastikan orang tuanya tidak terbebankan. Oleh cita-citanya pada Pendidikan.
Permintannya sederhana, sebuah alat tulis dan buku untuk Sekolah. Tapi pupus harapanya.
Ketidak mampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar dirinya. Saat potret Keluarga sangat transparan jelas kondisi Indonesia kini. Berbanding balik dari cita – cita Bung Hatta yang mendambakan sebuah kemerdekaan rakyat indonesia yang bahagia dan sejahterah.
Tanparan seharusnya sangat kencang kepada Pemerintah Negara, yang mefokuskan prioritas terhadap program anak – anak. Pada Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menginginkan masa depan anak-anak Indonesia cerah. Khusus tiga program unggulan menyasar langsung kebutuhan anak-anak dari; Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis(CKG), dan Revitalisasi Sekolah. Hampir ratusan Triliun di goncorkan.
Untuk Anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) saja di tahun 2026 sebesar Rp335 Triliun. Fantastis dan memilukan. Apalah arti Nominal anggaran tersebur ketika Tragedi Seorang anak Sekolah Dasar (SD) berani bunuh diri karena tidak mampu memenuhi standar sebagai siswa didik.
Siswa umur 10 Tahun tersebut, sudah terhukum secara sosial dengan kondisi keluarga yang miskin. Memilih bunuh diri merupakan bentuk protes. Serta memberikan Cermin ekstremnya terhadap struktur sosial negara tidak berada pada rakyat kecil, tidak ada ruang bagi mereka yang paling lemah. Untuk mendapatkan hak-hak dasar Pendidikan negara tidak mampu. Bahkan salah prioritas dalam membangun generasi emas.
Kemarahan sebagai rakyat melihat kondisi ini, sudah meluap. Berharap menuntuskan dari akar masalah, karena kemiskinan bukan sebuah nasib. Tapi sebuah struktural negara yang tidak mampu memberikan peluang terhadap fasalitas dasar pendidikan dan akses pekerjaan. Anggaran Negara menjadi Program-Progam kepentingan Kelompok saja. Bukan fokus pada kesejahteraan rakyat. Industri dibangun padat modal dan ekstrasi sumberdaya semata. Tidak banyak peluang kerja.
Menurut Biro Pusat Statustik 10 Juta gen Z (berusia 15-24 tahun) menganggur. Jumlah angkatan Kerja Indonesia Agustus 2024 mencapai 152,11 juta orang. Sebagai generasi muda melihat Negara sudah fokuskan ratusan Trilluan hanya untuk Program anak- anak. Seperti Program makan Gizi Bergizi Gratis. Namun bukan soal perut si anak yang harusnya menjadi fokus semata.
Bisa di lihat, Ribuan anak keracunan dari Program MBG, Anggaran Pendidikan Terpotong dari semestinya 20 persen APBN. Lebih Ironisnya, Data Kementrian Tenaga Kerja jumlah PHK 2024 mencapai 80.000 Orang naik 33 persen dari tahun sebelumnnya. Berarti, ada orang tua yang kehilangan pekerjaan. Pastinya ada perut keluarga lainnya yang kelaparan. Sedangkan Makanan Bergizi tak layak, Banyak Terpotong tak sesuai. Program untuk anak muda hilang tanpa prioritas, karena demi ambisi Presiden.
Saya/kamu/kita semua,Boleh marah terhadap setuasi Pengelolan negara yang jauh dari cita – cita kemerdekaan sebuah Bangsa. Karena Prioritas penggunaan anggaran penuh dengan kepentingan kelompok, ambisius dan haus penghormatan hubungan luar negri Presiden.Bisa disebut, bangsa aceh butuh bantuan pasca Banjir tidak di priorotas. Bahkan dilupakan. Serta Konflik agraria masih banyak setiap Daerah. Lahan adat Papua tergusur karena Oligarki. Puluhan ribu hekar Hutan hilang akibat ekspansi Pohon Sawit. Itulah kondisi penindasan negara secara struktural dan banyak lainya.
Terlebih ironis,Ambisi langkah Presiden daftar menjadi anggota Board Of Peace yang di buat Presiden Trum. Indonesia harus menyumbang 17 Trilliun atau 1 Miliar Dolar. Disaat rakyat bersedih dan terhimpit, hak – hak nya di rampas negara. Bolehlah marah. Begitu mungkin ketika Bung Hatta melihatnya.
Sebegai generasi muda, dalam pikiran saya. Haruslah bangkit keinginan untuk melawan segala bentuk penindasan struktural dari negara berwajah Kolonialisme. Bahkan jika perlu berontak dalam menyampaikan pertanya protes pada otoritas, tidak takut mengambil resiko. Karena harapan Bung Hatta untuk mendirikan sebuah negara yang di dalamnya (rakyat) Bahagia. Harapan itu, ada di tangan kita semua Generasi Muda.
Penulis : Firmansyah
Sebagai : Kamerad Benteng Society














